KETIKA MATA TERBUKA
Ketika
Mata Terbuka
season1
Bagai
laut yang menyahut saling menyambut, bersuara dengan goyah awan bercahaya bulan
dan bintang. Angin mengarahkan sebuah isyarat yang perlahan menggerakkan rambut
mengikutinya. Aku terpaku pada air yang terus saja bersuara, seakan mengadu.
Tepukan
pada pundakku membuat fokusku beralih pada seseorang yang duduk disampingku.
Dia bertanya padaku akan kepulanganku ke kampung halaman. aku menunduk dan
mengatakan keraguanku untuk bertemu keluargaku, terutama ayahku.
Paman
tak banyak bicara padaku sejak kepergianku dari rumah dua tahun yang lalu, aku
tak tau juga alasannya tapi hubungan kita jadi terasa canggung. Aku terus
berfikir tentang hidupku, dan bagaimana aku sampai pada titik ini.
“orang
tua tidak hanya butuh uang yang kau kirimkan setiap bulannya, mereka juga ingin
bertemu padamu. jika tidak sekarang, pulanglah saat hari raya. Kau tak
merindukan momen bersama keluargamu?”
Aku
hanya memalingkan wajahku padanya dan bersikap acuh. Dia menepuk pelan bahuku
lagi, “aku akan kembali ke Yogya besok, waktu liburku telah habis untuk
menngunjungimu. Aku tak bisa lagi terus datang kesini, kau telah dewasa kau
juga harus bisa mengerti ini semua. Berhenti membuat pekerjaanmu sebagai
pelarianmu. Aku pergi.”
Aku
mencoba menetralkan suasana hatiku, dan mengingat hidupku dimasa lalu.
#Usia 15 tahun
Awal
masuk SMA, aku mengenal seseorang bernama Reno kelas 3 IPA. Pertemuan yang
singkat saat itu, dia menolongku dari kenakalan teman sekelasnya yang
menggangguku. Ada tiga orang lelaki sedang mengangguku ketika aku sedang memilih
buku untuk tugas kelasku. Aku memohon kepada mereka untuk meluangkan tempat
agar aku bisa mencari buku di rak yang mereka buat duduk itu. salah satu mereka
berdiri dan diikuti yang laiinya, saat salah satu dari mereka akan memukulku,
Reno datang dan menarikku dari sana. dia membawaku pergi ke taman dan
memberikan buku yang aku butuhkan itu.
“kau
bisa kembali ke kelas sekarang. Kenapa kau selalu saja membuat dirimu
kesulitan! Jangan berurusan dengan mereka lagi!”. Dia pergi meninggalkanku dari
sana.
Sebenarnya
itu bukan pertemuan pertamaku dengannya, waktu terus berjalan dan membuatku
sadar siapa Reno sebenarnya. Dia adalah kakak sahabatku waktu kecil dulu,
sahabatku Riani. Dulu dia sangat hangat kepada semua orang, sejak Riani
meninggal, keluarganya memutuskan untuk pindah, dan saat Reno mulai SMA, mereka
kembali ke Malang. Memang benar Reno menyadari lebih dulu akan diriku, aku
begitu terlambat untuk mengenalinya. Suatu hari perpustakaan sepi, banyak
bangku yang kosong. Aku duduk tepat disampingnya, aku menarik buku yang ia
baca, dia melirikku sebentar dan memberiku coklat dari sakunya.
Aku
menunggu di depan sekolah, sangat menyebalkan hujan lebat saat jam pulang
sekolah. Teman-temanku mengajakku untuk nekat basah-basahan agar cepat sampai
ke rumah, namun aku enggan untuk mengikuti mereka dan memilih untuk menunggu
hujan sedikit reda. Bosan mulai datang menghampiriku,
“akan
lama jika kau menunggu hujan, lihat mendungnya. Mendungnya menutup rata awan
biru.” Reno yang tengah melihatku. Dia sedang ada les untuk ujian akhir
sekolah, karena itu dia belum pulang juga. Dia membuka payung yang tengah
dibawanya,”pulanglah, ibumu akan cemas jika kau tak pulang tepat waktu.”
Setelah
saat itu, aku mulai sulit untuk menemukannya di perpustakaan dan lorong-lorong
kampus. Teman sekelasnya juga tak mengetahui kemana, namun dia akan berada di
kelas ketika jam masuk telah mulai. Aku berlari ke kelasnya saat bel istirahat
dibunyikan, namun aku terlambat. Aku tak menemukannya. Aku menitipkan payungnya
kepada teman dikelasnya.
Aku
sampai dirumah dan membantu ibu memasak untuk makan malam. aku bertanya-tanya
kenapa makan malam hari ini ibu memasak sangat banyak hanya untuk empat orang
saja, tidak seperti biasanya. Saat itu ibu hanya tersenyum padaku. adikku aril,
membantu menata masakan yang telah matang di meja makan.
Aku
kembali ke kamar untuk mandi dan bersolek sebelum ayah pulang dari kerjanya.
Ayah bekerja di perusahaan kecil dengan gaji pas-pasan. Keluargaku bukanlah
keluarga yang kaya, namun kita merasa cukup dengan hidup yang sederhana ini.
suara mobil ayah memasuki halaman, aku bergegas untuk menyambutnya.
Bersamaan
dengan itu, aku terkejut dengan siapa yang datang bersamanya. Itu Yoga, anak
dari manajer perusahaannya. Setelah itu disusul orang tuanya masuk ke dalam
rumah. Aku tak bertanya mengapa, karena mereka memang sering datang kerumah
untuk silaturahmi.
Yoga
mengikutiku masuk ke dalam untuk berbincang di taman belakang rumah. Suasana
sedikit canggung karena sebulan lalu terakhir kita bertemu. “kau bertambah
tinggi sekarang?”
“hmm?”
Astaga
apa yang ku katakan, sangat tidak bermutu. Gerutuku dalam hati.
“aku
meminta papa untuk memindahkan sekolahmu ke sekolahku. Aku tak punya banyak
teman di sekolah, paling tidak kita bisa lebih sering bertemu disana.”
Aku
sangat terkejut dengan ucapannya itu, aku merasa sangat jengkel mendengarnya.
“apa yang kau lakukan? Hidupku bukan hal yang harus kau atur, kita bisa bertemu
saat kau datang kerumah, bukankah itu cukup!”
“kenapa
kau marah? Ayahmu sudah menyetujuinya. Tenang saja, karena ini permintaanku,
papaku akan mengurus biaya pendidikanmu disekolahku. Kau tak perlu khawatir.”
Aku
berlari masuk menemui ayahku dan bicara lantang kepada mereka di ruang tamu
bahwa aku tak mau untuk pindah sekolah. Lalu aku berlari masuk ke kamar. Satu
pesan telah masuk, ini dari Reno. Maaf,
akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Apa kita bisa bertemu?
Aku
menenangkan diriku, lalu membuat panggilan kepadanya.
Aku
menunggu Reno di tempat bermain saat masa kecil dulu. Dia datang membawa
beberapa makanan ringan dari supermarket. Dia meminta maaf karena membuatku
menunggu. Awalnya kita sama-sama terdiam, membiarkan malam melakukan tugasnya
membuat cerita.
“aku
akan pergi Jepang setelah kelulusanku, karena itu aku sibuk mengurus keperluan
akan keberangkatanku.”
“kenapa?
Kenapa harus ke Jepang?”
“lebih
tepatnya, aku pulang. Sejak kepergian Riani, sulit bagi kami untuk melanjutkan
hidup karena itu kami pindah ke Jepang, disini semua kenangannya hidup dalam
fikiran kami. Kami terus saja menyibukkan diri, papa menambah usaha-usaha baru,
mama sibuk dengan kelas butiknya. Aku mencoba untuk menyatukan mereka, tapi
mereka terlanjur terluka karena kehilangan Riani.”
“sangat
sulitkah untuk melupakan orang yang kita sayangi?”
Dia
tersenyum,”bukan melupakan, tapi mengenangnya dalam senyuman. Saat kita mulai
merindukannya, kita menyendiri kesuatu ruangan yang gelap. Saat aku membuka
mata pagi itu, aku sadar bahwa kita tak bisa hidup dalam keterpurukan terus
menerus. Namun saat itu aku masih SMP, aku mencoba mendekatkan papa dan mama.
Mencoba membangun kembali keluarga yang harmonis, aku sering merengek dan
berpura-pura sakit supaya mama dan papa mengurusku di rumah. Namun sangat sulit
untuk membangun kebahagiaan ketika hati kita masih larut dalam luka.”
“lalu
bagaimana dengan sekarang?”
“mereka
menyuruhku untuk kembali, semoga saja ini awal yang baik untuk keluargaku. Kau
tau, aku sangat tidak sabar untuk kembali ke rumahku. Gea, kau beruntung punya
keluarga yang sangat menyayangimu, selalu ada untukmu. Karena itu, jangan pernah
merasa kesal atau marah pada ayah dan ibumu. Kau harus mengerti mereka, dan
mencoba memahami sikap mereka. karena, orang tua juga ingin perhatian dari
kita. Jangan lelah untuk meminta maaf ketika kita membuat kesalahan, jangan
marah ketika mereka membuat keputusan yang tidak kita sukai, karena orang tua
akan selalu memikirkan kebahagiaan dan kebaikan anaknya.” Dia menoleh kearahku,
dan melirik sisi tubuhnya yang lain.
Aku
menatap ke depan dimana ada ayunan, aku mengulang kisahku dengan riani bermain
disana dengan diawasi orang tua kami. saat itu, kenangan begitu jelas bahwa
kita sangat bahagia. reno menyenggol bahu kananku, saat aku menolehnya dia
telah menyodorkan kado berbungkus warna kuning untukku.
Aku
menerimanya pelan, setelah itu aku pulang kerumah dengan sepeda motornya.
Sesampainya di rumah, aku melihat ayah dan ibu yang cemas menungguku. Ibu
memelukku dan bertanya dari mana saja aku pergi sampai pulang larut. Aku hanya
menggeleng, lalu ayah menyuruhku masuk ke kamar untuk istirahat.
Malam
yang larut, hanya menyisakan kisah dimasa laluku.
Belas kasih yang kau berikan
Kasih yang kau tuangkan
Maafkan anakmu, yang sering salah akan sikapmu
Ayah dan ibu
Beribu-ribu terima kasihku akan kehidupan yang kau berikan
Kau malaikat yang dikirim Tuhan untukku
Terima kasih telah menjagaku
Ayah dan ibu
Matamu yang mulai sayup
Kulitmu yang mulai keriput
Tegak tubuhmu mulai
membungkuk
Ayah dan ibu
Kupanjatkan syukur atas kasihmu
Iklhas menemani saatku sakit
Setia bersamaku saat ku terpuruk
Ayah dan ibu
Bersambung......
Komentar
Posting Komentar